Monday, November 12, 2012

Menghidupi PIA, Masalah Buat Lo?


“Tidak ikut reformasi, minggirlah.” Pernyataan Rusman Heriawan ini perlu kita renungkan kembali dalam mengimplementasikan nilai-nilai inti Badan Pusat Statistik (BPS); Profesional, Integritas, dan Amanah (PIA) dalam pekerjaan sehari-hari. Pernyataan yang ditujukan untuk semua insan BPS dalam sebuah Workshop Wartawan di Bandung tahun 2010 ini “menampar keras” insan BPS untuk “menghidupi” Reformasi Birokrasi di lingkungan BPS kala itu.
Dua tahun berlalu, secara perlahan tapi pasti BPS mulai bermetamorfosis. Mengimplementasikan nilai-nilai inti BPS (baca: PIA) – yang merupakan pondasi yang kokoh untuk membangun jati diri dan penuntun perilaku setiap insan BPS dalam melaksanakan tugas (Badan Pusat Statistik, 2010) – diharapkan akan menciptakan insan BPS yang “wow” serta menciptakan budaya kerja BPS. Budaya inilah yang sejatinya menjadi jati diri BPS yang akan membedakan BPS dengan institusi lainnya sekaligus mengubah paradigma masyarakat mengenai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sulit memang tetapi tidak berarti mustahil.
Metamorfosis BPS
Proses metamorfosis BPS terlihat jelas dengan peningkatan sarana dan prasarana BPS seperti pembangunan dan rehab gedung kantor (sesuai prototype), satu komputer jinjing untuk satu Koordinator Statistik Kecamatan (KSK), kendaraan dinas baru, mesin handkey sampai tingkat BPS Kabupaten. Prototype kantor BPS berdiri megah seakan tersenyum hangat menyambut setiap pengunjung yang datang. Kelengkapan fasilitas (ruang perpustakaan dan layanan) dan penggunaan teknologi informasi, selalu siap memberikan pelayanan terbaik. Sungguh hal yang amat membanggakan. Perubahan ini tidak sampai di situ saja, bahkan BPS sampai mengubah struktur organisasinya.
Di sisi lain, BPS juga sedang mengalami perubahan budaya kerja. Implementasi PIA dalam pekerjaan sehari-hari akan mengganggu insan BPS yang telah kadung nyaman dalam comfort zone-nya. Dengan ini BPS diharapkan dapat tetap eksis mengikuti perubahan jaman (baca: reformasi birokrasi). Seperti halnya, Dinosaurus punah bukan karena lemah tetapi karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, kita (baca: insan BPS) harus berubah.
Perubahan-perubahan itu nyata seperti disiplin waktu kerja (disiplin masuk dan pulang kantor) – dengan mesin handkey sampai tingkat kabupaten. Peningkatan kapasitas insan BPS dengan pelatihan dan pendidikan – baik tugas belajar maupun ijin belajar. Pelaksanaan Video Conference (Vicon) memperlancar komunikasi BPS dengan efisien menembus ruang dan waktu.
Lain lagi dengan kegiatan BPS yang semakin padat dan bertumpuk. Standard Operating Prosedur (SOP) kegiatan yang diterapkan kadang tidak “ideal” di lapangan – menjadi tantangan tersendiri bagi insan BPS. Belum lagi sampai saat ini, (masih ada) BPS di daerah yang sedang menghadapi ketidakpuasan masyarakat yang tidak menjadi penerima Raskin. Sebuah konsekuensi tugas yang tidak dapat dielakkan.
Dalam menghadapi hal-hal tersebut dibutuhkan moral dan orientasi bekerja yang tangguh. Itulah perlunya kita menghidupi PIA. Dengan banyaknya tantangan dan tekanan inilah jati diri kita semakin teruji. Memang tak dapat kita pungkiri kalau dalam perjalanannya mulai terlihat fenomena degradasi moral dan disorientasi.
Fenomena Degradasi Moral dan Disorientasi
Salah satu gejalanya seperti dengan disiplin yang hanya “disiplin absen” bukan “disiplin yang berkualitas”. Jam kerja yang dimulai 07.30 WIB s/d 16.00 WIB untuk hari Senin s/d Kamis dan 07.30 WIB s/d 16.30 WIB untuk hari Jumat, dengan batas toleransi keterlambatan 30 menit – memaksa insan BPS untuk datang dan pulang tepat waktu karena akan ada pengurangan Upah Kinerja (UK). Hal ini terbukti ampuh – disiplin masuk dan pulang para pegawai pun mulai nyata terlihat. Namun setelah disiplin absen apakah setiap kita bekerja secara efektif dan efisien? Atau setelah nge-handkey kita (baru) sarapan, atau mengobrol, atau mengerjakan sesuatu yang bukan pekerjaan kantor di jam kantor – sehingga beberapa waktu kerja kita menjadi tidak efektif dan efisien.
Sesuai dengan butir-butir pada Profesional dari PIA; efektif dan efisien, kita harus memberikan hasil maksimal dan mengerjakan tugas secara produktif, dengan sumber daya minimal termasuk waktu. BPS sebaiknya mengadakan workshop/lokakarya khusus mengenai PIA sampai ke tingkat BPS Kabupaten/Kota – tidak ditumpangkan dalam pertemuan-pertemuan BPS – berikut dengan contoh-contoh langkah konkret dalam pekerjaan sehari-hari. Sehingga setiap insan BPS dapat memahami PIA secara benar dan tidak menjadi slogan semata. Selain itu perlu diadakan evaluasi yang berkesinambungan mengenai implementasi PIA sampai di BPS Kabupaten/Kota, bahkan dapat dijadikan sebagai salah satu lomba budaya di Hari Statistik Nasional. Tentunya dibutuhkan kriteria yang jelas dan terukur dalam menilainya.
Begitu juga dengan insan BPS yang bekerja hanya business as usual. Ketika kita bekerja seperti itu, maka pekerjaan kita hanya akan sekedarnya dan berpotensi membuat kita jenuh dan bosan. Hal ini dapat menyebabkan menurunnya kualitas data yang kita hasilkan. Kita perlu melakukan inovasi dalam pekerjaan sehari-hari – sesuai dengan butir inovatif pada Profesional. Untuk itu BPS perlu mendorong seluruh insan BPS untuk inovatif, salah satunya dengan pelaksanaan sistem reward and punishment yang tulus dan adil – sesuai butir-butir pada Amanah. Kepastian jenjang karier yang jelas juga dapat menjadi pendorong bagi kita untuk terus berinovasi.
Sebetulnya masih banyak lagi hal-hal lain (baca: fenomena degradasi moral dan disorientasi) selain hal di atas yang perlu kita perbaiki bersama-sama. Marilah kita semua menghidupi PIA dalam setiap pekerjaan kita sehari-hari, sehingga kita tidak terpinggirkan.
Ya, besar doa dan harapan kita, metamorfosis (baca: perubahan) ini berjalan sempurna dan BPS menjadi “kupu-kupu yang indah” – pelopor data statistik terpercaya untuk semua. Menghidupi PIA, Masalah buat lo?

No comments:

Post a Comment

Post a Comment